Selasa, 29/09/2009 08:40

Sidang Paripurna MPR Akhir Masa Jabatan Periode 2004-2009

 

Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid menyampaikan sejumlah rekomendasi untuk anggota MPR periode 2009-2014 dalam Pidato Penyampaian Laporan Kinerja Pimpinan MPR RI masa jabatan 2004-2009 di depan Sidang Paripurna MPR RI ini.

Pidato tersebut dihadiri Wakil Presiden Yusuf Kalla, para anggota MPR dari unsur DPR dan DPD, para Pimpinan Lembaga Negara, Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan undangan lainnya.

Rekomendasi itu mencakup penguatan kelembagaan MPR RI, dimana ketentuan Pasal 14 UU Nomor 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD, Pimpinan MPR bertambah menjadi lima orang dibanding periode sekarang yang terdiri dari empat orang.

Diharapkan dengan komposisi itu, akan lebih kuat dan lebih efektif pelaksanaan tugas dan wewenangnya untuk terus menjaga MPR sebagai lembaga yang terhormat. Rekomendasi berikutnya adalah tindak lanjut pemasyarakatan putusan MPR RI. 

Rekomendasi mencakup delapan point yaitu optimalisasi nara sumber training of trainers (TOT), dialog interaktif di TVRI dan RRI, cerdas cermat konstitusi, muatan konstitusi dalam kurikulum sekolah, peringatan hari konstitusi, peringatan hari ulang tahun MPR RI, pembangunan museum MPR dan melanjutkan pengelolaan keuangan MPR yang wajar tanpa pengecualian.

Menurut Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, tindak lanjut pemasyarakatan putusan MPR diharapkan mencapai sasaran yang lebih luas, baik kualitas maupun kuantitasnya. Untuk itu, selain melanjutkan sosialisasi yang sudah ada juga perlu terobosan ijtihad dan inovasi baru mengenai metoda pemasyarakatan putusan MPR ke berbagai kalangan masyarakat.

Dia menyebutkan dalam optimalisasi nara sumber TOT perlu dioptimalkan untuk memberikan materi sosialisasi kepada masyarakat di provinsinya masing-masing atau dilingkungan departemennya.

Sedangkan untuk dialog interaktif di TVRI dan RRI perlu dilanjutkan, mengingat metoda ini sangat efektif karena mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat  yang berada di seluruh wilayah Negara Republik Indonesia.

Sosialisasi melalui cerdas cermat konstitusi menurut Ketua MPR memperoleh tanggapan yang positif dari para siswa dan guru-guru di daerah-daerah, karena metoda ini sangat efektif untuk generasi muda dan para pelajar.

Pimpinan MPR masa jabatan 2009-2014 perlu mempertimbangkan kesinambungan pelaksanaan, bahkan dengan peserta yang tidak terbatas di tingkat SLTA tetapi di PTN dan SMP sebagaimana diusulkan oleh para dosen dan guru-guru di daerah.

Sedangkan kemasyarakatan konstitusi melalui media pendidikan formal baik di Pergurun Tinggi (PT) maupun disekolah-sekolah sangat efektif dilakukan untuk mempercepat proses pemasyarakatan konstitusi keberbagai kalangan masyarakat. Oleh karena itu, perlu terobosan yang lebih efektif agar materi konstitusi ini dapat ditetapkan menjadi salah satu muatan dalam kurikulum sekolah baik di pendidikan dasar, menengah, maupun perguruan tinggi.
Ketua MPR juga menyebutkan Peringatan Hari Konstitusi dan Peringatan Hari Ulang Tahun MPR perlu terus dilakukan sebagai bahan renungan dalam melanjutkan kiprah MPR.

Sementara itu, pembangunan museum MPR dimaksudkan untuk melaksanakan nilai sejarah MPR yang sekarang ini telah dicanangkan oleh pimpinan MPR akan hadirnya museum MPR yang bisa menampung seluruh dokumen serta dinamika perjalanan MPR.

Rekomendasi terakhir menyangkut pengelolaan keuangan MPR yang wajar tanpa pengecualian diminta untuk dilanjutkan, sebab predikat tertinggi dalam bidang pengelolaan keuangan Negara yang diraih oleh MPR adalah bagian dari kinerja Pimpinan MPR dan Sekretariat Jenderal MPR.
           
Ditegaskan Hidayat Nur Wahid, melanjutkan komitmen ini akan menjadikan MPR sebagai lembaga Negara yang dapat merealisasikan Tap MPR Nomor XI/MPR/1998, sehingga MPR akan selalu hadir sebagai lembaga Negara yang terhormat.

 

Berikut pidato Ketua MPR RI dalam Sidang MPR Akhir Masa Jabatan Tahun 2004-2009:

klik untuk dowload

 

Share

LCC 2012 Seleksi Provinsi Kalimantan Timur Babak Penyisihan I