Senin, 03/10/2011 08:40

Aksi Jenaka Dalang dan Wayang Cenk - Blonk di Puputan Bali

Masyarakat Bali, terutama yang dtinggal di sekitar daerah Badung dan beberapa wilayah di sekitar Denpasar, Jumat malam (30/9) sejak pukul 19.00 WITA terlihat bergegas dengan berbagai alat transportasi menuju satu titik yakni lapangan Puputan, Badung, Denpasar.

Apa pasal? Ternyata beberapa hari sebelumnya masyarakat Bali sudah menerima kabar bahwa pada hari Jumat malam akan digelar pagelaran wayang Bali dalam rangka Sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara ( Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI. Bhinneka Tunggal Ika ) yang sedang digalakkan MPR RI, dengan lakon Anggada Duta

Dalang yang akan membawakan lakon Anggada Duta ini adalah I Wayan Nardayana atau lebih dikenal dengan sebutan dalang Cenk-Blonk.

Menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan Provinsi Bali A.A Gde Geriya, dalang cenk-blonk ini sangat terkenal di masyarakat Bali.

“Dalang cenk-blonk sangat terkenal di masyarakat Bali. Dalam membawakan cerita atau lakon, dalang ini selalu menyelipkan dialog-dialog jenaka dengan bahasa yang akrab di telinga masyarakat,” ujarnya.

Pagelaran wayang di gelar tepat pukul 21.00 WITA. Rangkaian acara yang sudah dipersiapkan penyelenggara, diikuti dengan khidmat oleh seluruh penonton yang sudah memadati lapangan Puputan.

Hadir dalam acara tersebut mewakili Pimpinan MPR RI, beberapa pejabat teras Sekretariat Jenderal MPR RI seperti Kepala Biro Keuangan Suryani, Kepala Biro Humas Yana Indrawan, Kepala Biro Sekretariat Pimpinan Aip Suherman, beberapa Kepala Bagian, staf, dan beberapa media massa nasional.

Dari pihak Provinsi Bali, mewakili Gubernur Bali hadir Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata I Ketut Swastika, Kapolda Bali Irjen Pol Totoy Herawan Indra, dan pejabat-pejabat provinsi Bali dan Forum Pejabat Daerah Provinsi Bali, serta media massa lokal.

Dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan Kadisbudpar Prov.Bali, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengatakan bahwa pemerintah dan masyarakat Bali memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pimpinan MPR RI dalam melakukan sosialisasi empat pilar di Provinsi Bali dengan media kesenian, salah satunya dengan pagelaran wayang cenk-blonk Bali.

Menurut Made, wawasan kebangsaan yang ingin dimunculkan dan dikuatkan lagi dan menjadi tujuan akhir sosialisasi empat pilar ini harus didukung penuh dan aktif dalam implementasinya. Pemerintah provinsi Bali berharap tujuan dan misi dari sosialisasi empat pilar ini bisa tercapai, yaitu diimplementasikannya esensi dan nilai-nilai empat pilar kebangsaan di seluruh Indonesia.

Kepala Biro Keuangan Setjen MPR RI Suryani yang didaulat membacakan sambutan Pimpinan MPR RI menyebutkan bahwa pagelaran kesenian wayang kulit ini adalah merupakan salah satu metode sosialisasi empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pimpinan MPR RI berharap sang dalang bisa menyampaikan pesan-pesan tentang pentingnya esensi dan implementasi empar pilar kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara demi bertambah kuatnya persatuan dan kesatuan Indonesia,” ucap Suryani.

Rangkaian acara resmi ditutup dengan penyerahan wayangan dari dalang, yang diterima oleh Suryani mewakili Pimpinan MPR RI.

Lakon Anggada Duta

Lakon ‘Anggada Duta’ pun dimulai dengan apik oleh dalang cenk-blonk. Tokoh utama cerita ini adalah Anggada.  Dalam kisah Ramayana, ia adalah tokoh berwujud kera berbulu merah. Kera sakti ini adalah anak angkat Prabu Sugriwa raja dari kerajaan Guwakiskenda. Anggada juga adalah keponakan Anoman ( Hanoman ) tokoh kera sakti berbulu putih.

Dikisahkan, Anggada ikut berperang sebagai senapati pasukan kera di pihak Prabu Ramawijaya dari kerajaan Ayodya yang akan berperang melawan balatentara kerajaan Alengka yang dipimpin Prabu Rahwana. Perang ini terjadi karena Rahwana menculik isteri Rama yaitu Dewi Sita ( Dewi Sinta ).

Anggada yang masih sangat muda oleh Rama, ia diutus sebagai duta kerajaan Ayodya menghadap Rahwana untuk menjajaki kekuatan Alengka sekaligus memberikan ultimatum, agar memberikan Dewi Sita baik-baik atau pecah perang.

Sesampainya di kerajaan Alengka, Rahwana menghasut Anggada bahwa orang tuanya ( Resi Subali ) dibunuh oleh Rama yang bersekutu dengan Sugriwa. Hasutan Rahwana berpengaruh pada diri Anggada. Ia pun kembali ke pasukan Rama dengan penuh dendam menantang Rama dan Sugriwa, untung hal ini dapat dicegah oleh Anoman sehingga Anggada menjadi tersadar kembali.

Anggadapun kembali sebagai senapati bersama Rama, Anoman dan Sugriwa, melawan Rahwana dan balatentaranya. Aksi perkelahian wayang-wayang ini sangat bagus dimainkan dalang, ditambah oleh efek suara pertempuran, cahaya, dan asap sehingga membuat aksi wayang ini terlihat seperti hidup.

Akhir cerita, Prabu Ramawijaya dengan usaha yang sangat keras dan dukungan pasukan kera berhasil merebut Dewi Sinta dari tangan Rahwana.

Pesan yang disampaikan dalang dalam lakon ini adalah, jangan mudah terhasut dan jangan mudah percaya berita atau kabar bohong sebelum melakukan klarifikasi dan duduk bersama untuk membicarakannya. Hasutan bisa membuat persatuan rusak dan perseteruan antar anak bangsa makin meluas.

Jika diamati, wayang Bali pada umumnya tidak ada perbedaan yang mencolok dengan wayang jawa. Yang membedakan hanya bahasa yang dipergunakan dan waktu pagelaran. Jika di Jawa, pagelaran wayang akan dimainkan semalam suntuk, namun di Bali cukup dua atau tiga jam saja.

Yang unik dan khas adalah sosok beberapa wayang jenaka, yang dimainkan dalang sebagai bumbu humor di sela-sela berjalannya cerita utama. Bentuk wayang-wayang jenaka ini sangat lucu dengan dua bibir atas bawah yang bisa digerakan menyesuaikan dengan dialog sang dalang.

Selorohan-selorohan lucu wayang-wayang cenk-blonk ini disertai sindiran dan kritik-kritik pedas namun pintar tentang kelakuan koruptor, pejabat yang tidak amanah dan soal kehidupan sosial masyarakat. Inilah yang menjadi magnet ketertarikan yang besar masyarakat Bali pada wayang cenk-blonk dan dalangnya.

Di antara sindirian-sindiran dan kelakuan lucunya, wayang-wayang ini juga menyampaikan dialog tentang pentingnya mengamalkan nilai-nilai empat pilar dalam kehidupan sehari-hari.

“NKRI adalah harga mati. Percaya deh semua, rakyat Bali tidak ada sedetikpun berpikir, keluar dari NKRI. Kami semua sibuk memikirkan kehidupan sehari-hari, tak sempat mikirkan keluar dari NKRI,” demikian salah satu selorohan sang dalang melalui wayang-wayangnya.

Ditemui usai pagelaran, dalang cenk-blonk mengatakan bahwa dirinya sebagai seniman sangat bersyukur ada kolaborasi antara lembaga pemerintah pusat MPR RI, pemerintah Provinsi Bali, dan seniman seperti dirinya, bekerja sama memakai seni sebagai media untuk melakukan sosialiasi empat pilar.

“Ini sangat baik, bukan hanya wayangan saja, bentuk seni lain juga harus dijajaki di seluruh Indonesia. Mudah-mudahan berjalan baik dan terus berlanjut program ini,” tandasnya.

Share

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu