Belajar Banyak kepada India
MPR RI
Ketua MPR Taufiq Kiemas dan Duta Besar India Biren Nanda
(Humas MPR)
Hubungan Indonesia dan India telah terjalin ratusan tahun, namun ada beberapa hal di mana India lebih depan. Untuk itu Indonesia perlu belajar kepada negeri Sungai Gangga itu, misalnya dalam pembuatan film yang lebih bermutu dan menjadi kebanggaan bangsa.
Empat tahun adalah masa yang singkat. Tak terasa waktu secepat itu mengakhiri tugas Duta Besar India untuk Indonesia, Biren Nanda. Ia bertugas di Indonesia pada awal 2008, dan pada Februari 2012, oleh pemerintah negara asalnya ia ditarik pulang. Untuk mengakhiri masa tugas di Indoneisia, pada 14 Februari 2014, ia melakukan pamitan kepada pimpinan MPR.
Saat berkunjung ke pimpinan MPR, Biren Nanda yang didampingi oleh Staf Kedutaaan Besar India, Raveesh Kumar, diterima oleh Ketua MPR Taufiq Kiemas, Wakil Ketua Hajriyanto Y. Thohari dan Melani Leimena Suharli, serta anggota MPR dari Fraksi PDIP, Arief Budimanta, di Ruang Kerja Taufiq Kiemas, Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD.
“Saya telah menyelesaikan tugas di Indonesia selama 4 tahun dan akan kembali ke India,” ujarnya. Menurut Biren Nanda, hubungan Indonesia dan India dilakukan sejak ratusan tahun, dan lebih terasa dan monumental ketika Indonesia di bawah Presiden Soekarno dan India di bawah Perdana Menteri Jawaharlal Nehru.
Diungkapkan oleh Biren Nanda, saat Presiden Indonesia Megawati melakukan kunjungan ke India, kedua negara telah melakukan kemitraan strategis terutama di bidang teknologi. Biren Nanda mengharap hubungan kedua negara tidak sebatas antarpemerintah namun juga antarparlemen. Disebut pada tahun 2009, Ketua DPR telah melakukan kunjungan ke Parlemen India, dan pada Mei 2012 Parlemen India akan melakukan kunjungan ke Indonesia. “Kita harapkan hubungan antarparlemen Indonesia dan India semakin akrab,” harap pria asal Delhi itu.
Pamitan Biren Nanda kepada pimpinan MPR disambut baik oleh Taufiq Kiemas. “Selama yang Mulia menjadi duta besar, banyak kemajuan dari hubungan India dan Indonesia,” ujar suami Megawati itu. Pernyataan Biren Nanda yang menyatakan hubungan kedua negara telah dilakukan sejak lama dibenarkan oleh Taufiq Kiemas. Agama-agama besar di Indonesia, Budha, Hindu, dan Islam, menurut Taufiq Kiemas datang dari India. Sehingga hubungan kedua negara tidak bisa dipisahkan lagi.
Lebih lanjut Taufiq Kiemas mengatakan ada kesamaan antara Indonesia dan India, yakni sebagai negara demokrasi terbesar. India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu menjalankan sistem demokrasi, demikian pula Indonesia. Indonesia mayoritas penduduknya beragama Islam, juga melaksanakan sistem demokrasi.
Di era saat ini, dikatakan oleh Taufiq Kiemas, Indonesia dan India adalah anggota G-20. G-20 atau Kelompok 20 ekonomi utama adalah kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa. Secara resmi G-20 dinamakan The Group of Twenty (G-20) Finance Ministers and Central Bank Governors atau Kelompok Duapuluh Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral.
Keanggotaan India dan Indonesia dalam kelompok ekonomi itu menurut Taufiq Kiemas sebenarnya sudah diramalkan oleh para pendiri bangsa bahwa kedua negara akan menjadi kekuatan baru di dunia. “Sekarang sudah terbukti,” ujarnya. Meski demikian, Taufiq Kiemas agak menyesalkan Indonesia belum masuk BRIC. BRIC adalah singkatan dari Brazil, Rusia, India, dan Cina. Empat negara yang pertumbuhan ekonominya pesat. Akronim ini pertama dicetuskan oleh Goldman Sachs pada tahun 2001. Menurut Goldman Sachs, pada tahun 2050, gabungan ekonomi keempat negara itu akan mengalahkan negara-negara terkaya di dunia saat ini.
Meski belum masuk BRIC, Biren Nanda optimis Indonesia bisa masuk ke dalam kelompok 4 negara itu. “Perkembangan ekonomi Indonesia terus meningkat,” ujarnya. Biren Nanda melihat banyak negara yang mengagumi perkembangan ekonomi Indoneisa. “Indonesia akan terus maju dalam berbagai bidang,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Hajriyanto Y. Thohari mengharap agar pengganti Biren Nanda dapat melanjutkan kesuksesan hubungan kedua negara yang telah terjalin saat ini. Menurut Hajriyanto Y. Thohari banyak persamaan antara India dan Indonesia, hanya ada satu perbedaaannya. “Penduduk India mayoritas beragama Hindu namun wisatawannya banyak mengunjungi peninggalan Islam, sedang penduduk Indonesia mayoritas Islam tetapi wisatawan banyak yang mengunjungi peninggalan Hindu,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu Hajriyanto Y. Thohari menegaskan ada 4 kerjasama yang perlu ditingkatkan oleh India dan Indonesia. Pertama, memperbanyak beasiswa dari pemerintah India kepada mahasiswa dan pelajar Indonesia, karena selama ini banyak mahasiswa Indonesia yang belajar ke India. Kedua, Indonesia perlu banyak belajar kepada India mengenai produksi film. Film India yang diproduksi Bollywood menurut Hajriyanto Y. Thohari sangat popular di Indonesia. Disebutkan film My Name is Khan, Three Idiot, menjadi box office. Ketiga, penerbit dari negara Eropa dan Amerika Serikat telah memberi lisensi kepada penerbit di India untuk mencetak buku-buku bermutu. Dari sinilah maka buku-buku bermutu di India murah harganya. “Mudah-mudahan India mau mendorong agar penerbit dari negara Eropa dan Amerika Serikat mau menerapkan hal yang sama di Indonesia,” ujarnya. Keempat, Indonesia perlu belajar mengenai masalah obat-obatan, sebab harga obat di India lebih murah dibanding Indonesia.Berita Terkait:
-
Minggu, 21/08/2011 11:41
LAIN HATI LAIN MULUT -
Minggu, 21/08/2011 11:37
PENANDATANGANAN MOU LAUT TIMOR BATAL/SIGNING OF TIMOR SEA MOU CANCEL -
Rabu, 03/08/2011 18:48
PENANDATANGANAN MOU LAUT TIMOR BATAL/SIGNING OF TIMOR SEA MOU CANCEL -
Rabu, 03/08/2011 12:17
LAIN HATI LAIN MULUT














