Selasa, 10/04/2012 12:43

Layakkah Pemilukada Langsung dilanjutkan?

Pemilukada langsung sebagai bagian proses demokrasi, memiliki sisi positif dan negatifnya sendiri.  Dari dimensi  ekonomi, pemilukada ternyata tidak memberi sumbangan terhadap kesejahteraan.  Berbeda dibanding dimensi politik, yang melihat sisi positif pemilukada langsung lebih besar dibanding negatifnya.

Pendapat itu disampaikan Thomas Ola Langoday, dosen Universitas Widya Mandira, Kupang. Thomas menyampaikan pendapatnya itu  pada  seminar nasional   empat pilar, yang berlangsung di Hotel T-More Kupang Nusa Tenggara Timur, Selasa (10/4).

Menurut Thomas, kerusuhan horisontal yang kerap muncul  dan mewarnai Pemilukada langsung berdampak negatif, pada  sektor ekonomi. Seperti penundaan atau bahkan pembatalan investasi.

Selain itu, karena membutuhkan biaya yang sangat besar, pemilukada langsung hanya bisa diperankan oleh segelintir orang saja, khususnya kelompok borjuis. Sayangnya keterlibatan tersebut dianggap sebagai investasi politik yang akan dituntut untuk dikembalikan bila kandidat yang dibelanya memenangkan pemilukada. Baik dalam bentuk uang melalui APBD, maupun proyek-proyek pembangunan daerah.

Karena itu,  menurut  Thomas pemilihan langsung pada pemilukada patut dikaji ulang.  Jangan sampai hanya bernilai positif pada sektor politik tapi bernilai negatif pada sektor ekonomi.

"Atau, kalau perlu dikembalikan seperti sistem perwakilan zaman dulu. Intinya jangan sampai proses demokrasi, itu merugikan sektor ekonomi dan kesejahteraan rakyat," kata Thomas menambahkan.

Share

Sampaikan Komentar Anda
Komentar untuk berita ini
Komentar (0)

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu