Sabtu, 25/02/2012 18:49

Seminar di Unimed: Empat Pilar Menciptakan Keunggulan Komparatif dan Kompetitif

Sosialisasi 4 Pilar, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, melalui metode seminar, yang diselenggarakan di Universitas Negeri Medan (Unimed), Medan, Sumatera Utara, 25 Februari 2012, terasa sangat segar. Pasalnya salah satu narasumbernya adalah Ruhut Sitompul. Orang Batak mantan artis sinetron itu adalah anggota MPR dari Fraksi Partai Demokrat. Biasanya, saat menjadi narasumber, Ruhut Sitompul tidak sangar dan nylekit seperti saat di sidang-sidang DPR, namun lebih banyak mengeluarkan joke-joke lucu sehingga suasana ger-ger-an muncul dalam seminar.

Dalam seminar di perguruan tinggi yang berdiri 23 Juni 1963, dengan tema Pemahaman Empat Pilar Empat Pilar Kehidupan Bernegara Sebagai Bentuk Upaya memporkoh Ketahanan Nasional, sebagai narasumber selain Ruhut Sitompul, adalah Antropolog Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Dr. Usman Pelly Antropolog; Kepala Laboratorium Unimed, Dr. Denny Setiawan; dan Kepala Pusat Studi Unimed, Dr. Majda El Muhtaz.

Dihadapan 200 peserta seminar, dari beragam unsur, saat sambutan pembukaan, Wakil Ketua MPR, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Indonesia memiliki keragaman budaya, agama, bahasa, dan etnis yang tersebar di antara bentangan geografis yang sangat luas. Namun keragaman ini berpotensi destruktif apabila tidak dikelola dengan baik. “Di sinilah pentingnya sosialisasi 4 Pilar,” ujarnya.

Dengan panjang lebar, Lukman Hakim Saifuddin mengajak kepada peserta seminar untuk menggali lebih dalam apa dan bagaimana sebaiknya 4 Pilar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Indonesia akan menjadi bangsa yang bertahan beratus-ratus tahun jika kita membangun fondasi yang kuat dan kokoh,” ujarnya. Dalam kesempatan itu pula, Lukman Hakim Saifuddin menekankan pentingnya ketahanan suatu bangsa yang tangguh. “Ketahanan nasional yang tangguh tercermin dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, ekonomi,” ujarnya.

Sebagai tuan rumah, Rektor Unimed, Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Si, mengungkapkan sejak lima tahun yang lalu, perguruan tinggi yang dipimpinnya telah mendeklarasikan sebagai The Character Building University.  Gerakan ini selain bersinergi dengan Renstra Kementerian Pendidikan Nasional, juga sebagai upaya pihak Unimed untuk menciptakan ‘generasi emas.’ Generasi Emas yang dimaksud oleh Ibnu Hajar adalah manusia yang pintar dan berkarakter. “Generasi Emas berkorelasi dengan sosialisasi 4 Pilar,” ujarnya. Sosialisasi 4 Pilar dan Generasi Emas, bagi Ibnu Hajar dimaksudkan untuk menumbuhkan karakter manusia Indonesia yang tangguh dan paham dengan nilai-nilai kebangsaan dan kenegaraan. “Seminar ini tepat waktu karena saat ini telah terjadi degradasi moral seperti individualistik, egosentrik, pragmatis, dan dampak buruk globalisasi,” paparnya.

Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila

Di dalam seminar, Enny Setiawan dalam pemaparannya mengulas pendapat Francis Fukuyama, seorang akademisi dari Amerika Serikat, yang telah menyatakan bahwa sejarah telah berakhir di tahun 1990-an. Akhir dari sejarah itu adalah tidak akan ada lagi pertarungan antara ideologi besar, yang ada hanyalah kapitalisme dan demokrasi liberal. “Hal demikian mengakibatkan munculnya kesadaran bagi negara-negara yang ada di dunia, betapa pentingnya ideologi,” ujarnya. Lebih lanjut dikatakan, dari sinilah ideologi sebagai staatsfundamental norm kembali dibangun oleh nation state.

Bagi Enny Setiawan, prospek ideologi Pancasila diarus globalisasi sangat kuat, buktinya kecuali Indonesia tidak ada sebuah negara kepulauan di dunia yang mampu eksis di tengah bangsa-bangsa lainnya. Arus globalisasi yang terus menggelinding di tengah kehidupan masyarakat dunia justru memperkuat persatuan dan kesatuan. “Di sinilah prospek ideologi Pancasila dengan watak integralistik,” paparnya.

Untuk itu nilai-nilai Pancasila perlu direvitalisasi oleh seluruh komponen nasional. Cara untuk merevitalisasi Pancasila, salah satu caranya adalah dengan menjadikan Pancasila sebagai sebagai mata pelajaran atau mata kuliah wajib pada tiap jenjang sekolah dan kuliah. “Perlu aktualisasi dan internalisasi nilai-nilai Pancasila di era globlalisasi yang membawa perubahan nilai,” ujarnya.

Apa yang dikatakan Enny Setiawan didukung Majda el Muntaz. Menurutnya, penerapan nilai-nilai 4 Pilar dalam kehidupan sehari-hari merupakan upaya untuk membangun kesadaran berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia. “Ini merupakan sebuah modal bangsa,” ujarnya.

Dalam membangun kesadaran berbangsa dan bernegara, diakui bukan suatu hal yang mudah. Kesenjangan ekonomi, pragmatisme, separatisme, merupakan hal yang mesti dihadapi dan diselesaikan. “Oleh karena itu, desakan untuk menggulirkan 4 Pilar adalah bentuk usaha sadar penguatan kembali nafas kehidupan berbangsa dalam merawat ke-Indonesia-an yang majemuk, modern, dan berperadaban,” paparnya.

Lebih lanjut dipaparkan, 4 Pilar merupakan simbolisasi dari pemaknaan adanya dasar demokrasi dan harus dipandang sebagai ketahanan nasional Indonesia. “Empat Pilar merupakan daya tahan bangsa dalam menanggulangi dan mengatasi beragam permasalahan bangsa dan negara,” ujarnya. Lebih lengkap diungkapkan, “Empat Pilar menjamin kelangsungan hidup dan menciptakan keunggulan komparatif dan kompetitif serta menjadi kekuatan yang mutlak.”

Sementara itu dalam pemaparannya,  Usman Pelly mengaitkan semangat 4 Pilar untuk menyelesaikan masalah konflik agraria. “Penyelesaian masalah agraria bisa diselesaikan apabila kita mengacu pada Pancasila dan Pasal 33 ayat 3 UUD NRI Tahun 1945,” ujarnya. Usma Pelly mengharap agar pemerintah memposisikan diri sebagai penguasa yang tidak merangkap menjadi pengusaha. 

Share

Sampaikan Komentar Anda
Komentar untuk berita ini
Komentar (0)

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu