Senin, 16/04/2012 12:31

Empat Pilar: Perlukah Wadah Baru


semnas banjarmasin
(Humas MPR )
Seiring dengan ditetapkannya TAP MPR No. XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila yang berdampak pada pembubaran institusi BP-7 maka tidak ada lagi lembaga yang secara fungsional melakukan pemasyarakatan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila menjadi semakin kurang dipahami sebagai landasan ideal dalam pembangunan nasional di tengah arus globalisasi yang terus mengikis rasa nasionalisme, persatuan, dan kesatuan bangsa.

“Urgensi dan Relevansi Pembentukan Badan Pengkajian dan Pemasyarakatan Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”, satu tema yang diusung dalam acara Seminar Nasional, Senin (16/04/2012) oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, yang dalam hal ini digalang oleh Biro Pusat Pengkaji MPR RI, kerjasama dengan Universitas Islam Kalimantan (UNISKA) Muhammad Arsyad Al-Banjary, di Hotel Arum Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Tertuang dalam pasal 15 ayat (1) huruf e Undang-Undang No.27 tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), bahwa Pimpinan MPR bertugas mengoordinasikan anggota MPR untuk memasyarakatkan Undang-Undang Dasar Negara Repubik Indonesia Tahun 1945. Penyelenggaraan seminar nasioanl  adalah salah satu kegiatan dari Majelis Permusyawaratan Rakyat dalam rangka sosialisasi tersebut.

Selaku ketua panitia, Kepala Pusat Pengkaji Sekretariat Jenderal MPR RI, Ma’ruf Cahyono, melaporkan; Kalimantan Selatan adalah Provinsi ke-15 dari 33 provinsi yang dijadwalkan. Tema-tema yang diangkat dalam seminar adalah tema yang terkait dengan tugas dan kewenangan majelis, dan isu-isu kebangsaan. Diharapkan dari pelaksanaan kegiatan ini adalah, bahwa empat pilar akan menjadi nilai-nilai yang hidup. Dengan Pancasila sebagai ideologi, UUD NRI 1945 menjadi landasan konstitusional, NKRI sebuah komitmen, dan Bhinneka Tunggal Ika-spirit kebangsaan yang merangkum keanekaan dalam persatuan dan kesatuan.

Seminar diikuti oleh sekitar 200 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa, instansi pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, politisi, akademisi, tokoh adat, tokoh agama, serta ormas dan LSM yang ada di Kalimantan Selatan, dihadiri dan diikuti pula oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin sejak pagi hingga sore tadi.

Rektor UNISKA, Mustatul Anwar dalam sambutannya berharap, seminar nasional yang dilaksanakan ini dapat memberi pencerahan dan penguatan terhadap nasionalisme khususnya pada generasi muda sebagai penerus bangsa dalam penguatan karakter anak bangsa yang bersumber pada empat pilar (Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Rektor  juga menyampaikan keinginannya, agar para peserta dapat memberikan masukan dan rekomendasi berkaitan dengan pemasyarakatan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.

MPR merasa perlu melakukan upaya-upaya pembangunan karakter bangsa secara lebih terstruktur, sistematis dan masif tentang pemahaman dan pengamalan nilai-nilai empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara menjangkau ke seluruh lapisan masyarakat dan menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam wadah NKRI. Internalisasi karakter bangsa akan berjalan efektif apabila dilakukan oleh perangkat institusi yang secara fungsional mampu dan mempunyai kewenangan untuk melakukan tugas tersebut, ujar Adiyaman Amir Saputra, dalam sambutannya. Hadir mewakili Pimpinan MPR RI, Sekretaris Fraksi Partai Demokrat MPR RI ini juga melontarkan kasus yang perlu dipikirkan bersama; perlukah badan/lembaga/institusi pengkajian dan pemasyarakatan tentang hal yang terkait tema,  mengingat tidak ada satupun badan/institusi yang secara khusus melakukan pemasyarakatan empat pilar setelah dibubarkannya BP-7.

Dengan disaksikan oleh Gubernur Kalimantan Selatan, acara seminar nasional dibuka dengan pertukaran cinderamata antara UNISKA dengan Sekretariat Jenderal MPR RI.

Seminar terbagi dalam dua sesi dengan menghadirkan pemateri: Adiyaman Amir Saputra, Anggota dari Fraksi Partai Demokrat MPR RI; Idiannor Mahyudin; dan Mohammad Effendy, dari Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Sementara pada sesi ke dua hadir: Ahmad Muqowam, Wakil Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan MPR RI; Muhammad Alfani, Dosen Kopertis Wilayah XI Kalimantan, FEKON, UNISKA; dan Hairansyah, Dosen FISIP UNISKA.

Share

Sampaikan Komentar Anda
Komentar untuk berita ini
Komentar (1)

Komentar Terkini

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu