Rabu, 16/05/2012 16:04

Mendengar Pendapat Tokoh Agama tentang Pancasila

Agar pandangan tentang Pancasila seimbang, pimpinan MPR mengundang para tokoh agama untuk menyampaikan pendapatnya tentang Pancasila pada peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni 1945. Para tokoh agama pun mendukung sosialisasi 4 Pilar yang selama ini telah menjadi gerakan massif. 

Pada tanggal 1 Juni 2012, MPR akan menggelar peringatan Pidato Bung Karno, 1 Juni 1945. Dalam peringatan ini, bila tahun lalu para Presiden Indonesia, seperti B. J. Habibie, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono, memaparkan pandangannya tentang Pancasila, maka pada tahun ini Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Dien Syamsuddin; Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siroj; Ketua Umum Konferensi Wali Gereja (KWI), Martinus Dogma Situmorang; dan Ketua Umum Persekutuan Persekutuan Gereja di Indonesia (PGI), Andreas Anangguru Yewangoe, akan menyampaikan pendapat dan pandangannya mengenai Pancasila.

Jauh hari sebelum pelaksanaan, pimpinan MPR secara langsung menyampaikan undangan  kepada para pemimpin ummat itu. Setelah mereka mengunjungi Said Aqil Siroj, selanjutnya pada 16 Mei 2012, pimpinan MPR mendatangi KWI dan PGI.

Sekitar pukul 11.20 WIB, Ketua MPR, Taufiq Kiemas; Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y. Thohari dan Lukman Hakim Saifuddin, diterima oleh  Andreas Anangguru Yewangoe, di Kantor PGI, Jl. Salemba Raya No. 10, Jakarta Pusat.

Dalam kesempatan itu, Hajriyanto Y. Thohari memaparkan bahwa pada peringatan Pidato Bung Karno, 1 Juni, yang akan diselenggarakan pada 1 Juni 2012 berbeda dengan peringatan yang diadakan setahun yang lalu. Bila pada tahun lalu dari pihak negara, yakni pidato para Presiden Indonesia tentang Pancasila, maka pada tahun ini pimpinan MPR mengundang tokoh-tokoh masyarakat dan agama untuk mengupas Pancasila. “Agar perspektif tentang Pancasila menjadi seimbang,” ujarnya. 

Dimaksud oleh Hajriyanto Y. Thohari, bahwa pembahasan masalah Pancasila bukan dominasi dan urusan kepala dan aparat negara saja, namun juga hak dan kewajiban masyarakat. “Pada 1 Juni 2012, Kita akan mendengar tokoh-tokoh agama berbicara mengenai Pancasila,” ujarnya. Pidato para tokoh agama tersebut, menurut Hajriyanto Y. Thohari akan melengkapi pandangan tentang Pancasila dari semua unsur. “Selama ini lebih banyak diucapkan oleh para aparat pemerintah dan lembaga negara,” paparnya.

Dijelaskan oleh Hajriyanto Y. Thohari, pada tahun 2012 ini, sosialisasi 4 Pilar, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tungga Ika, lebih banyak ditujukan kepada masyarakat. Salah satu metode sosialisasi, yakni training of trainers (TOT) telah diselenggarakan di 20 provinsi. Dalam TOT itu pesertanya dari segala unsur masyarakat, seperti para tokoh agama di provinsi. Diungkapkan, selama TOT berlangsung, para tokoh agama tidak ada yang mengkritik Pancasila, yang dikritik adalah implementasinya. “Yang dikritik bukan Pancasila namum aplikasi dan implementasinya,” ujarnya. Bahkan dalam acara itu dijadikan dialog antarummat beragama.

Apa yang dikatakan itu dibenarkan oleh Andreas Anangguru Yewangoe. “Kita harus mempersempit gap antara teori dan realita,” ujarnya. TOT yang lebih banyak ditujukan kepada masyarakat didukung oleh pria asal Nusa Tenggara Timur  itu. Upaya untuk memberikan pemahaman 4 Pilar kepada masyarakat disebut sebagai langkah yang penting. Akibat dari kurangnya pemahaman 4 Pilar, di masyarakat sering menimbulkan berbagai masalah-masalah sosial, seperti adanya konflik yang mengatasnamakan agama.

Masalah konflik yang mengatasnamakan agama bagi mantan Rektor Universitas Kristen Artha Wacana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, itu tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Bila dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan ketidaktentraman.  Bangsa yang sudah diperjuangkan dengan korban jiwa raga dan harta ini sangat disayangkan bila tercerai berai karena masalah-masalah agama. “Kami akan tetap mendorong negara ini berdasarkan Pancasila,” paparnya.

Selepas menyampaikan undangan kepada Andreas Anangguru Yewangoe untuk menyampaikan pandangannya tentang Pancasila pada 1 Juni 2012, selanjutnya pimpinan MPR menyambangi Kantor KWI yang berada di Jl. Cut Meutia No. 10, Menteng, Jakarta.  Di KWI, pimpinan MPR diterima oleh Sekretaris Eksekutif KWI, Pastur R. Edy Purwanto; dan Romo Beny Susetyo.

Dalam kesempatan itu, seperti saat di PGI, disampaikan bahwa pimpinan MPR mengundang tokoh-tokoh agama untuk memberikan pandangannya tentang Pancasila pada peringatan Pidato Bung Karno, 1 Juni. “Terima kasih atas undangannya, dan akan kami sampaikan kepada Ketua Umum KWI,” ujar Edy R. Purwanto.

Dalam kesempatan itu, Edy R. Purwanto mengharap agar sosialisasi 4 Pilar bukan hanya menjadi komitmen dan gerakan dari pimpinan MPR saat ini, namun juga menjadi komitmen pimpinan MPR selanjutnya. “Bila tidak demikian, maka gerakan sosialisasi yang gencar dilakukan saat ini akan menjadi mkubazir,” paparnya. “Mudah-mudahan 4 Pilar tetap dijaga sehingga menjadi kekuatan baru,” tambah Romo Beny Susetyo.

Dalam kesempatan itu, Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan kepada wartawan mengapa tokoh dari agama Hindu dan Budha tidak diundang untuk menyampaikan pandangannya tentang Pancasila, menurutnya ini masalah waktu saja, untuk selanjutnya kedua tokoh agama itu juga akan diberi kesempatan yang sama. Ardi Winangun

Share

Sampaikan Komentar Anda
Komentar untuk berita ini
Komentar (0)

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu