Jumat, 25/05/2012 10:56

Agun Gunandjar: Menjadi Problem Ketika Pancasila Dilupakan

MPR RI


Agun Gunandjar Sudarsa
(Humas MPR)

Saat menjadi menjadi mitra diskusi dalam sosialisasi 4 Pilar, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, melalui metode tayangan televisi, TVRI, dengan program tayangan bernama Bincang Malam, rekaman 24 Mei 2012, anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Agun Gunandjar, mengatakan, di masa Orde Baru, Pancasila dijadikan instrumen kekuasaan, sehingga ketika ada yang menentang kekuasaan disebut menentang Pancasila. “Akibatnya masyarakat menjadi alergi Pancasila,” ujarnya.

Saat era reformasi, semua yang yang berbau Orde Baru diganti. Tak heran bila BP7 dihapus, kurikulum yang mempelajari Pancasila disekolah-sekolah ditiadakan. Era reformasi pun berkebalikan dengan era Orde Baru yang sifatnya otoriter. Karakter era reformasi pun  berlandaskan pada kebebasan berekspresi, HAM, supremasi hukum, dan demokratisasi. Karakter ini menyebabkan masyarakat bebas menyatakan pendapat sampai-sampai bersifat anarkhisme. “Di sinlah problemnya ketika nilai-nilai luhur bangsa yang dilupakan,” ujarnya. Untuk itulah perlu mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila, tentunya metode  pendekatan berbeda dengan masa Orde Baru.  

Proses lahirnya Pancasila, dikatakan oleh Agun Gunandjar merupakan proses yang panjang, berbagai peristiwa seperti Sumpah Pemuda 1928 dan Proklamasi 17 Agustus 1945, semua mengkristal dalam Pancasila. Dalam Pancasila inilah keragaman dan Persatuan dijunjung tinggi-tinggi. Meski Indonesia beragam bahasa, agama, suku, dan golongan, namun semua bisa bersatu. Ketua Komisi II DPR itu menceritakan, gara-gara soal bahasa, negara Belgia terancam disintegrasi bangsa. Demikian pula, gara-gara beda bahasa, Provinsi Quebec ingin melepaskan diri dari Kanada. “Dengan bahasa Indonesia kita bisa bersatu,” ujarnya.   

Share

Komentar (0)

Dialog Khusus : Pentingnya Sosialisasi Empat Pilar Dikalangan Generasi Muda