Martin Hutabarat: Persatuan Indonesia Harus Seperti Kopi-Susu
MPR RI
Martin Hutabarat
(Foto: Media Indonesia)
Ketua Fraksi Partai Gerindra di MPR, Martin Hutabarat, dalam program sosialisasi 4 Pilar, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, melalui metode tayangan televisi, TVRI, mengatakan bahwa saat ini kita kurang menanamkan paham kesadaran berbangsa dan bernegara kepada masyarakat, padahal masalah ini diakuinya sebagai hal yang penting. “Kita tidak boleh semenit pun melupakan paham kesadaran berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Lebih lanjut dalam program yang bernama Bincang Malam, tayang 7 Juni 2012, pukul 21.00 hingga 22.00 WIB, Martin Hutabarat mepaparkan, runtuhnya Uni Soviet, Yugoslavia, dan negara-negara Eropa Timur lainnya karena mereka meninggalkan rasa persatuan dan kesatuan. Untuk Indonesia diakui Martin Hutabarat sebagai sebuah keajaiban, sebab di tengah berbagai krisis yang ada Indonesia tetap mampu bersatu. Namun ia mengingatkan bahwa persatuan Indonesia jangan seperti sapu lidi, lidi yang berserakan dikumpulkan kemudian diikat kuat-kuat. Ia mengusulkan persatuan Indonesia seperti kopi susu, yakni antara kopi dan susu diaduk, membaur, dan menimbulkan satu rasa. Persatuan model kopi susu ini tidak lagi membedakan mana kopi dan mana susu. Sedang model persatuan sapu lidi, sifatnya dikekang atau diikat kuat-kuat, namun ketika ikatan itu dilepas, maka lidi-lidi itu akan berserakan kembali.
Sebagai bangsa Indonesia, Martin Hutabarat sangat bangga, dengan luas dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Rote, bangsa ini memiliki luas wilayah yang terbentang luas. Dikatakan, wilayah negara-negara Timur Tengah yang luasnya hampir seluas Indonesia saja memiliki puluhan negara. “Kita harus bersyukur ini merupakan anugerah Tuhan yang Mahaesa,” ujarnya. Menurutnya negara ini besar karena persatuan yang dijaganya.
Untuk menjaga persatuan dan kesatuan maka gangguan-gangguan yang ada harus dihilangkan. Gangguan yang ada itu misalnya adanya ketidakadilan. Pembangunan yang ada harus mampu diratakan. “Kalau tidak akan menimbulkan konflik,” ujarnya. “Pembangunan yang ada harus bisa dinikmati saat ini dan masa yang akan datang,” tambahnya.
Untuk melaksanakan pembangunan yang berkeadilan, Martin Hutabarat mengharap agar nilai-nilai Pancasila jangan dibuat mengawang tapi harus diimplementasikan ke dalam kebijakan-kebijakan pembangunan. Untuk menanamkan Pancasila dalam setiap sendi kehidupan, maka harus ada gerakan penyadaran terhadap Pancasila kepada masyarakat secara terus menerus “Sila-sila dalam Pancasila harus mampu mengisi seluruh kebijakan-kebijakan pembangunan,” tegasnya. Dalam masalah pembangunan, diharapkan agar bersinergi dengan potensi yang ada. “Kalau masyarakatnya agraris maka pembangunannya harus pada bidang pertanian,” ujar pria yang juga menjadi pengurus DPNHKTI itu. Pembangunan pada bidang pertanian penting, sebab Indonesia yang memiliki wilayah yang luas, namun anehnya justru kita banyak mengimpor produk-produk pertanian.
Berita Terkait:
- Lukman Hakim Saifuddin: Regenerasi Kepemimpinan Terjadi Di Masa Reformasi
- Wahidin Ismail: Partai Tak Memberi Ruang Yang Baik Untuk Regenerasi Kepemimpinan
- Kesalahan Pemaknaan Istilah Pilar
- Bambang Soeroso: Keanekaragaman Harus Dirajut Dalam Keguyuban
- Melani Leimena: Tak Benar Bangsa Indonesia Tak Toleransi
-
Senin, 14/01/2013 14:37
MPR, Gozis, Bakrie Amanah Bersinergi Sosialisasikan Empat Pilar -
Minggu, 21/08/2011 11:41
LAIN HATI LAIN MULUT -
Minggu, 21/08/2011 11:37
PENANDATANGANAN MOU LAUT TIMOR BATAL/SIGNING OF TIMOR SEA MOU CANCEL -
Rabu, 03/08/2011 18:48
PENANDATANGANAN MOU LAUT TIMOR BATAL/SIGNING OF TIMOR SEA MOU CANCEL



















