Senin, 16/07/2012 15:17

Ki Seno Nugroho: Tanpa 4 Pilar Negara Akan Runtuh


Ki Seno Nugroho
(Humas MPR)

Ratusan warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta, dan sekitarnya Sabtu malam, 14 Juli 2012, berbondong-bondang datang ke lapangan Dwi Windu yang terletak di pusat kota “Geplak” tersebut. Mereka adalah penikmat kesenian wayang kulit, yang malam itu, di lapangan tersebut, berlangsung pagelaran wayang semalam suntuk.

Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta sebagai penyelenggara pagelaran wayang dalam rangka sosialisasi 4 Pilar berbangsa dan bernegara menampilkan dalang ‘pujaan’ masyarakat Bantul Ki Seno Nugroho, dengan lakon:  Mbangun Candi Saptoargo.

Di tengah-tengah masyarakat pencinta wayang itu hadir pula sejumlah anggota MPR RI dari partai politik dan kelompok DPD RI. Mereka adalah Hj. Oelfah A. Syahrullah Harmanto (Partai Golkar), H. Djuwarto (PDI Perjuangan), Agoes Poernomo (PKS), H. Achmad Dimyati Natakusumah (PPP), H. Lukman Edy (PKB), Sumarjati Arjoso (Gerindra), Muhammad Afnan Hadikusomo (DPD), dan Eddy Siregar (Sesjen MPR RI).

Pagelaran wayang ini dibuka secara resmi oleh  Muhammad Afnan Hadikusumo, anggota MPR asal Jogjakarta, mewakili pimpinan MPR RI, yang ditandai penyerahan kayon (gunungan) kepada dalang Ki. Seno Nugroho. “Kami meyakini,  melalui media wayang kulit ini kita dapat menggali kembali nilai-nilai luhur bangsa, sekaligus mengokohkan kepribadian bangsa Indonesia,” kata Afnan Hadikusumah dalam sambutannya.

Salah satu nilai yang bisa dipetik dari kisah pewayangan ini adalah pentingnya menjaga, memelihara, dan melestarikan Jamuskalimasada sebagai dasar pegangan hidup berbangsa dan bernegara. Dalam lakon Mbangun Candi Saptoargo pusaka ini adalah pegangan para Pandawa bersama rakyat dalam menjalan kehidupan sehari-hari. “Dalam kepercayaan, Jamuskalimasada ini isinya kalimat syahadat,” jelas dalang Ki Seno Nugroho.

Jadi, kala itu, para Pandawa bermaksud membangun kembali negara Amarta yang rusak berat akibat bencana alam letusan gunung Merapi. Tapi, usaha itu selalu gagal, karena pusaka yang menjadi pegangan hidup para Pandawa dan rakyatnya, yang berbentuk Jamuskalimasada dicuri Dewi Mustakaweni, dan hal itu diketahui oleh Dewi Srikandi. Dan, salah satu cara untuk merebut kembali pusaka ini melalui jalan peperangan.

Singkat cerita, melalui perang tanding akhirnya Dewi Srikandi dapat mengalahkan Dewi Mutakaweni, dan Jamuskalimasada dapat direbut kembali. Dan, sejak itu, pembangunan Candi Saptoargo dalam diselesaikan, dan negara Amarta kembali aman dan terteram. Jadi, makna dari cerita itu bahwa pada saat Pandawa membangun Candi Saptargo selalu runtuh, karena tidak menyertakan Jamuskalimasada. Nah, “Itu sama artinya kalau kita meninggalkan 4 Pilar, maka negara ini akan runtuh,” ungkap Ki Seno Nugroho. 

Gubernur  DI Jogjakarta Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis dibacakan Kepala Dinas Kebudayaan Drs. GBPH Yudhaningrat menyatakan, pemilihan media wayang dalam menyosialisasikan 4 Pilar mengingatkan apa yang dilakukan  Wali Songo pada  abad 15-16. Kala itu para wali menggunakan wayang kulit sebagai media dakwah, menyesuaikan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang dan musik gamelan.

Melalui wayang, menurut Hamengku Buwono X, kita bisa belajar kebijaksanaan dari Semar, kejujuran dari Yudhistira, kesetiaan dari Kumbokarno, dan masih banyak tokoh wayang lainnya yang bisa diteladani. Dulu bangsa Indonesia dikenal ramah, jauh dari kekerasan. Tapi, sekarang terlihat berbalik 180 derajad. “Otot lebih ditonjolkan dari pada otak. Perilaku individualis dan hedonis semakin marak ,” kata Hamengku Buwono. 

Untuk itu, gubernur yang juga Sultan Jogjakarta ini menyatakan, penghayatan dan pengamalan terhadap 4 Pilar berbangsa dan bernegara sangat relevan untuk digalakkan kembali, sehingga masyarakat dapat memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam 4 Pilar tersebut, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalang Ki Seno Nugroho malam itu berusaha untuk menyelipkan nilai-nilai 4 Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara ini dalam pagelaran wayang kulit ini, terutama pada adegan-adegan limbukan.  Ki dalang juga mempersilahkan Sesjen MPR Eddi Siregar naik ke pentas untuk menjelaskan tentang sosialisasi 4 Pilar yang sedang digalakkan oleh MPR RI melalui berbagai media, termasuk wayang kulit.

Pagelaran wayang kulit di Bantul ini disiarkan secara langsung oleh Bantul Radio melalui frekuensi 89,1 FM. Dan, para penonton yang setia tetap tak beringsut sampai pagelaran ini berakhir pukul 04.00 dinihari, Minggu 15 Juli 2015. 

Share

Sampaikan Komentar Anda
Komentar untuk berita ini
Komentar (1)

Komentar Terkini

Rekaman Live Streaming Pidato Bung Karno 1 Juni di Bengkulu