PIMPINAN MPR

AKTUALITA

2 September 2010 09:07 WIB

Kegiatan Pimpinan MPR RI hari ini (2/9)

1 September 2010 08:36 WIB

Kegiatan Pimpinan MPR RI hari ini (1/9)

MPR » Opini » PENANGANAN MASALAH PENCEMARAN LAUT TIMOR

PENANGANAN MASALAH PENCEMARAN LAUT TIMOR

4 Februari 2010 08:06 WIB


YAYASAN PEDULI TIMOR BARAT (West Timor Care Foundation) Jalan Perwira 33 Kupang Timor Barat 85228 Fax :+62 380 820 374 Email;Westtimorcarefoundation@yahoo.com.au/westtimorcarefoundation@gmail.com ================================================================= KUTIPAN BERITA DARI HARIAN TIMOR EXPRESS Rabu,3 Pebruari 2010. Timnas Rumuskan Tiga Hal * Tindaklanjuti Penanganan Pencemaran Laut Timor JAKARTA --Tim Nasional (Timnas) Penanganan Tumpahan Minyak di Laut Timor merumuskan tiga hal yang akan tindaklanjuti dalam upaya menyelesaikan persoalan pencemaran di Laut Timor, akibat tumpahan minyak dari ladang minyak Montara yang meledak pada 21 Agustus 2009 lalu. Tiga hal tersebut, yakni, pertama mengkaji dampak lingkungan dan dampak sosial ekonomi akibat tumpahan minyak di Laut Timor melalui survei lanjutan oleh Timnas. Kedua, menghitung seluruh biaya operasional penanggulangan kerugian lingkungan dan kerugian sosial ekonomi akibat tumpahan minyak di laut Timor, dan ketiga, memformulasikan hasil analisa dan dukungan data lainnya guna penyusunan klaim ganti rugi akibat kebocoran Montara Well Platform (MWP) kepada pihak yang bertanggungjawab, dalam hal ini perusahaan pengebor yang akan dikoordinasikan oleh Timnas. Tiga rumusan ini dihasilkan dalam rapat tindaklanjut Timnas yang dilaksanakan di Gedung Kementerian Perhubungan (Kemhub), Selasa (2/2). Rapat yang dipimpin Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Laut (Hubla), Kemhub, Soenaryo itu dihadiri sejumlah lembaga terkait, diantaranya Kementerian Luar Negeri, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kelautan dan Perikanan, BPH Migas, Polri, Aster Kasum TNI, TNI AL, serta beberapa unsur dari NTT yang turut diundang, seperti Bupati Rote Ndao, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB), Ferdi Tanoni, dan Kepala Kantor Adpel Kupang, Piter H.B. Fina, serta media cetak dan elektronik. Sebagaimana yang disaksikan wartawan media cetak dan elektronik, rapat ini sempat diwarnai ketegangan. Hal ini bermula dari adanya pernyataan Soenaryo yang sedikit menyinggung batin Ketua YPTB, Ferdi Tanoni. Saat itu, Dirjen Soenaryo diawal pertemuan mengatakan bahwa pihaknya merasa kecewa lantaran pemberitaan-pemberitaan media, baik dalam negeri maupun luar negeri yang simpang siur soal masalah pencemaran laut Timor ini, dimana seolah-olah Timnas tak bekerja. Selain itu, Dirjen juga menyinggung bahwa ada sumber berita yang seolah-olah berupaya memprovokasi masyarakat untuk membesar-besarkan masalah ini. Tak hanya itu, Soenaryo juga menyebutkan bahwa ada elemen masyarakat yang mengirim surat-surat kepada Pemerintah Indonesia dan Australia yang juga menuduh Timnas tidak pernah berbuat sesuatu untuk memperhatikan dan menyelesaikan masalah pencemaran Laut Timor ini. Belum selesai berbicara, tiba-tiba pembicaraan Soenaryo diinterupsi oleh Ketua YPTB, Ferdi Tanoni. Namun Ferdi tak diberi kesempatan, dengan alasan Soenaryo belum menyelesaikan pembicaraannya. Setelah selesai berbicara, Soenaryo memberikan kesempatan kepada Ferdi Tanoni untuk berbicara. Sebelum masuk ke inti permasalahan yang disampaikan, Ferdi sempat mengenalkan dirinya, lalu dia menyampaikan klarifikasinya terkait pernyataan Soenaryo sebelumnya soal provokasi dan surat-surat yang ditujukan ke pemerintah Indonesia dan Australia. "Saya yang selama ini membuat surat-surat kepada pemerintah Indonesia dan Australia, dan juga selalu bersama-sama dengan nelayan dan petani rumput laut setempat yang menderita akibat tumpahan minyak ini, hingga saat ini belum pernah mendapat perhatian atau kunjungan langsung dari Timnas," ungkap Ferdi. Mendengar pernyataan Ferdi ini, Soenaryo langsung memotong pembicaraan Ferdi dengan nada yang tak bersahabat, bahkan sempat mengancam Ferdi untuk meninggalkan ruang rapat. Belum tuntas pembicaraan sela Soenaryo, Ferdi kembali memotong pembicaraan Soenaryo dengan mengatakan, "Sekarang juga saya tinggalkan ruang rapat ini, namun untuk diketahui bahwa kehadiran saya disini adalah karena diundang." Ferdi kemudian melanjutkan, untuk masalah pencemaran laut Timor, dirinya hadir dengan maksud dan tujuan agar antara Timnas dan masyarakat di daerah bisa menyamakan pendapat tentang kebenaran pencemaran laut Timor dan langkah-langkah lanjutan penanggulangan dan tuntutan ganti rugi terhadap operator ladang Montara melalui Pemerintah Australia. Dan ini, urai Ferdi, sudah merupakan tanggungjawab Pemerintah Australia untuk membela kepentingan masyarakat Timor Barat yang selama perang dunia kedua telah mengorbankan puluhan ribu nyawa untuk membendung lajunya pasukan Jepang menguasai Australia dari Utara. "Saya datang ke sini dengan uang pribadi saya sendiri, dan saya tidak punya kepentingan apa-apa atas masalah pencemaran ini, selain kepedulian saya terhadap Laut Timor yang sudah merupakan istri kedua saya yang telah saya suarakan sejak 10 tahun lalu. Bukan baru hari ini atau punya niat untuk mendompleng popularitas dibalik permasalahan pencemaran Laut Timor, karena untuk masalah laut Timor ini saya juga telah menulis buku (Skandal Laut Timor, Sebuah Barter Politik Ekonomi Canberra-Jakarta, Red)," ungkap Ferdi dengan nada meninggi sambil bersiap hendak meninggalkan ruang rapat, namun dicegah Soenaryo dengan memberi kesempatan kepada Ferdi untuk meneruskan pembicaraannya. Ferdi yang dimintai komentarnya usai rapat kemarin mengatakan, apa yang sudah dihasilkan dari pertemuan tersebut sangat dihargainya, dengan harapan Timnas dapat menindaklanjutinya. Untuk Posko Daerah supaya ditingkatkan perannya sebagai perpanjangan tangan Timnas, dengan dibekali sebuah kapal dan anggaran yang memadai untuk operasional survei lanjutan yang lebih intensif, misalnya untuk melakukan kajian mendalam terhadap dampak/kerugian ekonomis dan ekologis. "Kerugian ekonomis misalnya, mengidentifikasi masyarakat-masyarakat yang telah merasakan dampaknya seperti nelayan dan petani rumput laut, serta kerugian/kerusakan ekologis dengan melibatkan para ahli lingkungan dan geologi kelautan untuk kepentingan identifikasi dasar laut," pungkas Ferdi. (aln/fmc) ======================================================================================================================== EXCERPT FROM THE DAILY NEWS OF TIMOR EXPRESS Wednesday, February 3, 2010. NATIONAL TEAM FOR TIMOR SEA OIL POLLUTION FORMULATES 3 IMPORTANT POINTS * Follow up the Timor Sea Pollution Treatment JAKARTA - National Team Handling of Oil Spill in the Timor Sea to formulate three things that will follow in an effort to solve pollution problems in the Timor Sea, due to an oil spill from the Montara oil field exploded on August 21, 2009 then. Three things are, that is, first assess the impact of environmental and socio-economic impacts due to oil spills in the Timor Sea through further survey by the League. Second, calculate the reduction of operational costs and environmental damage the social and economic losses due to oil spills in the Timor Sea, and third, to formulate the results of data analysis and other support to the preparation of compensation claims due to leakage of Montara Well Platform (mwp) to the responsible party, in the case This drilling company that will be coordinated by the Team. Three of this formula resulted follow the National Team meeting held at the Ministry of Transportation Building (Kemhub), Jakarta Tuesday (2 / 2). Meeting led by the Director-General for Sea Transportation,Ministry of Transportation, Soenaryo was attended by a number of related institutions, including the Ministry of Foreign Affairs, Ministry of Environment, Ministry of Maritime Affairs and Fisheries,National Oil and Gas Body, Police, Navy,Army and some elements of the East Nusa Tenggara Province, such as the Head of the Regency of Rote Ndao, Chairman of the West Timor Care Foundation (YPTB), Ferdi Tanoni, and the Kupang Harbour Master, Piter HB Fina, as well as print and electronic media. As witnessed the print and electronic media jouirnalists, this meeting had characterized the tension. This stems from the statement that a little offensive Soenaryo inner YPTB Chairman, Ferdi Tanoni. At that time, the beginning of the meeting Soenaryo Director General said that they felt disappointed because the news-media coverage, both domestically and abroad about the maze of Timor Sea pollution problems, where as if the National Team did not work. In addition, the Director General also mentioned that there is a news source as if trying to provoke people to exaggerate this problem. Not only that, Soenaryo also mentioned that there are elements of society who sent the letters to the Government of Indonesia and Australia are also accused the national team never does anything to give attention and solve the pollution problem in the Timor Sea. Not finished talking, suddenly Ferdi Tanoni interrupted Soenaryo . But Sunaryo did not give the chance for Ferdi Tanoni to talk, for reasons Sunaryo have not finished his talk. When finished talking, Suinaryo gave the opportunity to Ferdi Tanoni to speak. Before entering into the core issues presented, Ferdi had introduced himself, then he delivered his statement of clarification related to the previous statement made by Soenaryo about provocation and letters addressed to the Government of Indonesia and Australia. "I who had made the letters to the government of Indonesia and Australia, and also always with fishermen and local seaweed farmers who suffer from this oil spill, to this day have never received the attention or direct requests from the national team," said Ferdi with a hostile tone. When heard this statement, Soenaryo interrupted Ferdi Tanoni directly, and even threatened Ferdi Tanoni to leave the meeting room. Unfinished conversation, Ferdi Tanoni interrupted Sunaryo again by saying, "Right now I leave this conference room, but to know that my presence here is due to invitation" Ferdi then went on to Timor Sea pollution problems, saying that he comes with the purpose and the mission to get the National Team and the communities in the region to equate opinions about the truth of the Timor sea pollution and further steps and handling compensation claims against the Montara field operators through the Australian Government. And this, explained Ferdi, should be an Australian Government responsibility for defending the interests of the people of West Timor which sacrificed their life during the second world war has cost tens of thousands of lives to stem the speed of the Japanese troops entering Australia from the North Australia. "I came here with my own personal money, and I do not have any interests on this pollution problems , but my concern for the Timor Sea which is already bacame as my second wife and I've voiced since 10 years ago. Not just today or no desire to become a hero using this pollution problems behind to promote myself, due to the Timor Sea issue, I also have written a book (The Timor Sea Scandal, A Canberra-Jakarta Political Economic Barter,editor), "said Ferdin and with a rising tone as he prepared to leave the meeting room but Soenaryo prevented by giving the opportunity to Ferdi to continue the conversation. Ferdi made his comments after the meeting yesterday said that he valued what has resulted from the meeting, he hopes the National Team to follow up this result. Area Command Post in order to increase it's role for example, to conduct in-depth study of the impact / economic and ecological losses. "Economic losses, for example, to identify communities that have felt the impact as fishermen and seaweed farmers, as well as loss / ecological damage with the involvement of environmental experts and marine geology to the seabed identification purposes," added Ferdi. (aln / FMC)


Opini Lain