Majelis Permusyawaratan Rakyat RI
Selasa, 09 Mei 2017 - 17:15 |

KPK Dan Penyair Sampaikan Memo Di Perpustakaan MPR

KPK Dan Penyair Sampaikan Memo Di Perpustakaan MPR

Ratusan penyair dari berbagai pelosok di Indonesia bersama dengan elemen KPK yang diwakili secara resmi oleh Nanang Farid Syam berkunjung ke MPR, 9 Mei 2017. Di Plaza Nusantara IV, Komplek Parlemen, Jakarta, mereka diterima oleh Anggota MPR dari Kelompok DPD, Asri Anas.

Di hadapan tamunya, Asri Anas menegaskan kasus - kasus korupsi tidak boleh dipandang parsial. Kasus-kasus seperti itu , katanya, berkaitan dengan seluruh anggaran yang bersumber dari APBN karena itu setiap gerakan rakyat yang mengawasi prilaku pengguna anggaran patut terus diberi ruang.

Asri Anas menambahkan kedatangan penyair bersama KPK ke Perpustakaan MPR sangat tepat karena dasar awal pendirian KPK adalah berdasarkan Ketetapan MPR No. VIII Tahun 2001.

Dalam pertemuan itu Asri Anas memuji  Sekretaris Jendral MPR yang telah menyediakan Perpustakaan MPR tidak hanya sebagai pusat literasi legislatif tetapi juga sebagai ruang publik yang menerima dan menampung segala aspirasi dan partisipasi khalayak dengan cara baru yang klise tetapi  cerdas dan intelektual.

Terkait dengan disahkannya UU Perbukuan dan Memajukan Kebudayaan pengungkapan demonstrasi melalui kata, juga merupakan salah satu upaya nyata memajukan kebudayaan nasional.

Ratusan penyair itu menyatakan dirinya melakukan demonstrasi dengan kata kata untuk mengkritisi kinerja para wakil rakyat, menyuarakan pikiran dan perasaan mereka yang sangat prihatin dengan kinerja wakil rakyat yang masih belum maksimal.

Para penyair menyebut gerakannya sebagai Memo Penyair yakni  komunitas penulis puisi yang peduli terhadap persoalan-persoalan krusial di tengah kehidupan masyarakat Indonesia. Kepedulian itu diwujudkan secara konkret dalam penerbitan buku puisi bersama serta mewacanakannya lebih lanjut lewat launching buku tersebut di berbagai kota.

Melalui jalan kebudayaan (puisi) komunitas ini mencoba berperan aktif untuk mengambil bagian dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik serta berkeadilan.

Dalam setiap aktivitasnya Memo Penyair menerapkan azas kemandirian yang ditopang oleh karakter gotong royong para anggotanya serta mengedepankan laku transparansi pada setiap proses pengelolaan kegiatannya.

Sejak Oktober 2014 komunitas ini telah menerbitkan Antologi Puisi “Memo untuk Presiden” (melibatkan 196 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Mei 2013), Antologi Puisi “Memo untuk Wakil Rakyat” (melibatkan 134 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, Nopember 2015), Antologi Puisi “Memo Antiterorisme” (melibatkan 250 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, April 2016), dan Antologi Puisi “Memo Antikekerasan Terhadap Anak” (melibatkan 194 penyair, Penerbit Forum Sastra Surakarta, September 2016).

Sejak November 2014 komunitas ini juga melakukan launching buku di berbagai wilayah di Indonesia dalam wujud pembacaan puisi, pentas seni, seminar, diskusi, orasi, lomba baca puisi, lomba cipta puisi dan lain-lain.

Acara kali ini dimotori oleh tokoh penyair senior yang mendeklarasikan dirinya sebagai penyair yang menulis Puisi Menolak Korupsi, Aloysius Slamet Widodo.  Dia menyebut kecintaan pada tanah air membuat dirinya termotivasi melakukan hal ini. Kecintaan pada keutuhan NKRI harus diikuti dengan perasaan ikut memiliki oleh seluruh rakyat sehingga dengan sukarela mengawasi kinerja wakilnya agar sesuai dengan harapan bangsa.

Sampaikan Komentar Anda

Hak Cipta © Sekretariat Jendral MPR RI 2015