.menu_preview{ /* display:none;*/ }

Surat Pembaca - Berdamai Dengan Tantangan dan Tuntutan Masa Depan

Berdamai Dengan Tantangan Dan Tuntutan Masa Depan

Minggu, 29 Mar 2020 - 05:29 Herwin Nur Kota Tangerang Selatan

Berdamai Dengan Tantangan dan Tuntutan Masa Depan Jangankan Masa Depan Pertama. Jangankan masa depan. Esok hari belum terjadi, masuk perkara gaib. Urusan dan wewenang plus hak prerogatif Allah swt. Umat manusia hanya wajib menyiapkan bekal dan modal untuk hari sesudah hari ini. Esok hari bukan hak milik manusia. Memanfaatkan waktu singgah di bumi. Amal demi amal dikumpulkan sebagai syarat lanjut ke perjalanan menuju kehidupan abadi pasca kematian. “Ya Allah, cukupkanlah kebutuhanku hari ini saja”, doa orang sufi. Mereka dengan tekun menunggu waktu sholat fardhu berikutnya. Waktu terasa berdetak lambat. Nikmat waktu saat bisa berjumpa dengan-Nya. Berdua-duaan dengan-Nya. Kedua. Batasan orang mampu adalah kecukupan pangan keluarga hari ini. Kerja harian masyarakat ekonomi sulit, demi sesuap nasi. Dilakoni dengan ridho dan tulus ikhlas. Mimpinya tak kemana-mana. Lebih menampilkan episode yang sudah dijalani. Tanpa firasat besok mau makan apa. Fenomena susah tidur malam vs sulit bangun malam Agar tepat guna, semua tahapan dalam siklus manajemen waktu memerlukan persiapan yang baik dan terencana. Sigap diri untuk keadaan darurat penyakit kehidupan malam, menjadi kunci dalam menghadapi keadaan darurat. Sigap darurat diri yang tepat manfaat adalah proses yang berkelanjutan, terus-menerus serta bertimbal balik. Merubah masa kini sebagai syarat dasar untuk memantapkan langkah menapak “mencari jarak terdekat” ke masa depan. Secara sadar, malah kita kian merasa dekat dengan masa lalu. Adagium sederhana, hidup membuat bukti masa depan vs hukum mencari bukti masa lalu. Arus searah kehidupan membuat orang bimbang dan ragu. Dilengkapi rasa was-was dan waspada berlebih terhadap masa depan nasib diri. Dorongan masa lalu bak kehabisan baterai. Rasanya masih bergerak dalam diam. Efek visual gerak bayangan kendaraan dari arah berlawanan. Tak sadar sudah melawan arus zaman. Posisi geografis NKRI yang tidak dengan 4 (empat) musim. Anomali cuaca akibat campur tangan manusia terhadap sistem bumi. Perjalanan waktu yang menentukan sistem penanggalan, qomariah maupun syamsiah. Kita simak ulang firman-Nya, tercantum di (QS Al Mu'minuun [23] : 80) : ”Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pertukaran malam dan siang. Maka apakah kamu tidak memahaminya?.” Ketiga. Hanya Allah swt dan Rasulullah saw sebagai jaminan. Melaksanakan kewajiban sebagai hamba-Nya dengan optimal. Bahkan dirinya pun siap diwakafkan, didonorkan di jalan-Nya. Berjuang di jalan-Nya sesuai ilmu dan kadar diri yang bisa-bisa nyaris senyap. Motivasi kebatinan tak kalah dengan orang saleh. Merasa jiwa dalam genggaman-Nya. Tak bisa digadaikan kepada pihak manapun Tak bisa diasuransikan dengan metoda dan kalkulasi finansial cara apapun. Efek samping mengandalkan motivasi, minat, atensi, hasrat, niat atau cita-cita berjangka panjang sudah terformat dalam struktur kompetitif. Orientasi diri kepada menjadi manusia unggul, laik tanding disegala medan laga kehidupan. Pembangunan manusia nusantara aneka versi masih terjebak problema belum optimalnya pengembangan potensi unggulan berbasis sumber daya pribadi. Pemenuhan hak pribadi, individu sebagai anggota masyarakat belum sesuai mandat regulasi yang berlaku. Gagal Menjadi Manusia Seutuhnya Program nasional pembangunan manusia Indonesia seutuhnya sejak presiden kedua RI. Kemasan lokal mewujudkan manusia unggul versi reformasi oleh presiden ketujuh RI. Kian menyisakan onggokan, tumpukan PR. Formulasi manusia unggul dipoles dengan ramuan ajaib revolusi mental. Terbukti secara politis. Kekayaan segelintir orang kaya lama nusantara yang terwariskan ke anak mantu cucu plus pengembangan usaha keluarga, setara dengan akumulasi kekayaan ratusan juta penduduk miskin. Lain pasal kejadian dengan kiprah, kinerja, kontribusi manusia politik mampu menentukan nasib bangsa lima tahunan. Sesuai asas pesta demokrasi daripada Soeharto. Semangkin cespleng membenarkan, membiarkan praktik daripada demokrasi nusantara sesuai selera yang punya negara. Daya kritis rakyat cukup jadi bahan mimpi malam atau bahan rembukan dalam hati. Stabiltas jiwa-raga, ketahanan fisik-mental manusia yang sigap bela negara. Ternyata rawan-rentan-riskan atas perkara anomali iklim, bencana alam, polusi, konflik sosial, abrasi pantai, longsoran bukit, penggundulan hutan, kahutla. Ditambah daya saing rendah terhadap kesenjangan ekonomi-politik-sosial-hukum dan tradisi kemiskinan di perdesaan dan pola hidup miskin tapi sombong di perkotaan. Mungkin tak selaras dengan daya juang unsur kemanusiaan di dalam dirinya. Manusia bisa berubah setiap saat. Bukan karena labil jiwa atau selalu mencari jawaban ‘siapa aku’. Kompetisi, persaingan hidup antar manusia menjadikan nila-nilai kemanusiaan tergerus, terkikis, tersublimasi secara alami manusiawi. Kuadran tertentu, malah tergadaikan secara sadar, sengaja, berencana. Harap Naik - Kian Parah Mengacu, merujuk. menyimak wahyu Allah SWT kepada Rasulullah SAW, termaktub di (QS Fushshilat [41] : ayat 49): “Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” Al-qur’an lebih banyak menggunakan kata, lema ‘asa’ dibanding kata, lema ‘harap’. Kehidupan manusia tak luput dari rasa harap-harap cemas. Rasa cemas seolah hanya muncul saat mengelola urusan dunia. Tidak dengan saat bergulat dengan urusan akhirat. Begitu juga dan memang begitulah muncul keadaan berbasis harap. Kehatian-hatian menggunakan kata dasar ‘harap’ karena jika terjadi sebaliknya, dieja, dibaca dari kanan menjadi ‘parah’. Bahasa saja sudah menjelaskan. Ada baiknya kta coba menyibaknya. Dengan catatan hanya kepada-Nya kita berharap. Pertama. Jangan berharap. Berharap sah-sah saja. Ibarat proses. Jangan berlebih atau mengharapkan. Mengharapkan sebagai kalimat aktif, justru pelakunya bersifat pasif. Khususnya pada hubungan antar umat manusia. Interaksi sosial, ikatan emosi, ikatan moral, hubungan keluarga dan kekerabatan, kontrak politik tetap bukan jaminan untuk mengharapkan kebaikan dari orang lain. Kedua. Jangan memberi harapan. Terlebih melalui janji. Kendati untuk menambah semangat ke anak. Atau untuk meyakinkan calon pasangan hidup. Lebih mulia kalau menghidupkan harapan. Selalu menyertakan Allah swt dalam setiap tahapan proses. Pemberi harapan yang harapan tinggal harapan. Mendahulukan kepentingan umum, memberi peluang agar orang lain lebih. Ketiga. Jangan memutuskan harapan orang lain. Sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Eksistensi kita sebagaimana pun kecilnya, akan menentukan keseimbangan. Acap telinga kita menangkap radar suara senyap minta tolong, butuh bantuan. Frekuensi tertentu menjadi permohonan. Melatih peka diri dan sigap menjadi bagian dari orang lain. Penuhi hak orang lain dan hak kita tak akan berkurang. Demikian harap saya agar pemirsa tetap konsisten dengan harap diri. dan manajemen waktu. Kita simak ulang firman-Nya, tercantum di (QS Al Mu'minuun [23] : 114) : ”Allah berfirman: "Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui".”

Kontak